Ruh adalah salah satu potensi yang dimiliki manusia, yang mana ruh ini dapat menjadikan hidup menjadi lebih ‘hidup’ dan lebih berarti. Kondisi ruhiyah seseorang sangat berkaitan dengan kodisi keimanannya. Ruhiyah yang baik sangat kondusif untuk memupuk keimanan yang mantap sehingga kita menjadi insan yang bertaqwa. Jadi ruhiyah adalah modal untuk meningkatkan ketaqwaan.
Firman Allah SWT dalam Q.S. al-Anfal (8): 29, al-Hadid (57): 28 dan ath-Thalaq (65): 2-3. Dari ayat di atas kita berkesimpulan bahwa taqwa kepada Allah adalah modal kekayaan inspirasi, sumber cahaya dan karunia yang melimpah. Dengan taqwa kepada Allah seorang mu’min bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, dan akan selalu mendapatkan jalan keluar yang menentramkan batinnya walau bagaimana besar dan rumitnya problema yang ia hadapi.
Hakekat Taqwa
Hakekat taqwa menurut para ulama :
1. Taqwa adalah hJendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilangan kamu dalam perinyah-perintah-Nya.
2. Taqwa adalah mencegah diri dari adzab Allah dengan berbuat amal sholeh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan.
3. Dalam satu riwayat yang shahih disebutkan bahwa Umar bin Khattab ra. bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang taqwa. Ubai ra. menjawab, ”Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?”
“Ya”, jawab Umar.
“Apa yang anda lakukan saat itu?”
“Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati.”
“Itulah taqwa.”
Berpijak dari jawaban Ubai bin Ka’ab atas pertanyaan Umar bin Khattab tersebut, Sayyid Qutb berkata dalam tafsir “Fi Zhilalil Qur’an, ”Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus-menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan…”
Jalan Mencapai Taqwa
1. Muraqabah (merasakan kesertaan Allah)
Landasannya Q.S. asy-Syura: 218-219.
Ketika Rasulullah ditanya tentang ihsan beliau menjawab, “Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihat kamu.” ( al Hadist)
Maksud muraqabah ialah merasakan keagungan Allah kapanpun dan dimanapun serta merasakan kebersamaan-Nya di kala sepi maupun ramai. Caranya dengan mengecek niatan kita saat beraktivitas apakah untuk ridha Allah atau yang lain. Jika benar-benar karena-Nya maka kita akan melaksanakannya kendatipun hawa nafsu kita tidak setuju.
2. Mu’ahadah (mengingat perjanjian)
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji.” (Q.S. an-Nahl: 91)
Caranya dengan mengintrospeksi diri dengan perjanjian yang telah kita ikrarkan 17x dalam sehari saat mambaca surah al-Fatihah.
3. Muhasabah (Introspeksi diri)
Makna muhasabah ialah hendaknya seorang mu’min menghisab dirinya ketika selesai mlakukan amal perbuatan. Nasehat Umar al-Faruq ra., “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan yang tiada tersembunyi dari amal kalian barang satupun.”
Caranya kita bisa membuat mutaba’ah harian atau merenung saat menjelang tidur atas apa saja yang telah kita lakukan seharian.
4. Mu’aqabah (Pemberian sanksi)
Q.S. 2:178; sanksi yang dimaksud dalam ayat di atas ialah apabila seorang mu’min menemukan kesalahan pada dirinya maka tidak pantas ia membiarkannya. Sanksi ini harus yang mubah, tidak boleh yang haram.
Contohnya dengan bershadaqah seperti yang dilakukan Umar bin Khattab yang menshadaqahkan kebunnya karena beliau ketinggalan sholat Ashar berjamaah karena pergi ke kebunnya. Atau Abu Tholhah yang melakukan hal yang sama karena ketika sholat, di depannya lewat seekor burung lalu beliaupun melihatnya dan lalai dari sholatnya sehingga lupa sudah berapa raka’at beliau sholat. Pemberian sanksi kepada diri sendiri dapat menumbuhkan sikap disiplin dan menghindarkan diri dari kasalahan-kesalahan yang lain.
5. Mujahadah (Optimalisasi)
Landasannya Q.S. al-Ankabut: 69.
Makna mujahadah sebagaimana disyari’atkan oleh ayat tersebut adalah apabila seorang mu’min terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya.
Faktor-faktor yang menumbuhsuburkan ruhiyah :
1. Selalu merasakan muraqabah Allah
Contoh: kisah Umar bin Khattab dengan seorang penggembala kambing dan kisah gadis penjual susu.
2. Mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya
Hamra al-Qushairi berkata, ”Kita semua yakin dengan datangnya maut, namun kita tidak mempersiapkan diri. Kita semua yakin akan sorga, namun kita tidak beramal dan kita semua yakin akan adanya neraka, namun kita tidak merasa takut kepadanya. Maka atas dasar apa kita bersuka ria.”
3. Memperbanyak tilawah al-Qur’an
Rasulullah selalu membaca AQ secara dawam (rutin). Beliau menyuruh Abdullah bin ‘Amru agar mengkhatamkan AQ sekali dalam sepekan. Jika kita tidak mampu maka hendaklah membacanya sesuai kemampuan dan jangan biarkan satu haripun tanpa membacanya.
4. Mempelajari sirah Rasulullah saw
Q.S. al-Ahzab: 21
5. Menyertai orang-orang pilihan yaitu mereka yang berhati bersih dan mengenal Allah (Q.S. at-Taubah: 119)
Ciri-ciri orang yang ma’rifatullah :
- Taat dan kontinue dalam beramal
- Menyibukkan diri dengan kelemahan dan aib yang ada pada dirinya, tidak sibuk dengan aib orang lain
- Beramar ma’ruf nahi munkar
- Memperhatikan umat Islam dan bersemangat dalam menghadapi permasalahan ummat
6. Dzikir kepada Allah disetiap waktu dan keadaan
Q.S. al-Baqarah: 152, al-Ahzab: 103, dan ar-Ra’d dalam menghadapi permasalahan ummat
Dzikir kepada Allah disetiap waktu dan keadaan
Q.S. al-Baqarah: 152, al-Ahzab: 103, dan ar-Ra’d: 28
7. Menangis karena takut kepada Allah di saat berkhalwat dengan-Nya
8. Bersungguh-sungguh membekali diri dengan ibadah nafilah (sunnah).
Sebagai Kesimpulan
Pembinaan ruhiyah dengan mu’ahadah, kita dapat beristiqamah diatas syari’at Allah.
- Dengan muraqabah dapat merasakan keagungan Allah baik dikala sembunyi ataupun di kala ramai.
- Dengan muhasabah dapat terbebas dari kebusukan hawa nafsu yang selalu berontak, dan bisa memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia.
- Dengan mu’aqabah dapat memisahkan diri dari penyimpangan dan muhasabah.
- Dengan mujahadah dapat memperbaiki aktifitas diri sekaligus menumpas kemalasan dan kelalaian.
Dengan cara-cara tersebut taqwa akan menjadi suatu hal yang biasa dan menjadi akhlaq yang sebenarnya. hatikan umat Islam dan bersemangat dalam menghadapi permasalahan ummat.
- Dzikir kepada Allah disetiap waktu dan keadaan Q.S. al-Baqarah: 152, al-Ahzab: 103, dan ar-Ra’d: 28
- Menangis karena takut kepada Allah di saat berkhalwat dengan-Nya.
- Bersungguh-sungguh membekali diri dengan ibadah nafilah (sunnah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar